Protoman - Mega Man

Rabu, 12 Oktober 2011

Masalah di Lingkungan Sekitar






Masalah di Lingkungan Sekitar

1. sampah
Kurangnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah di tempatnya menimbulkan berbagai efek negative. Di antaranya, lingkungan sekitar menjadi kotor, dan terkesan kumuh. Sampah yang berserakan, membusuk, dapat menyebabkan berbagai penyakit ‘klasik’, dan mengurangi keindahan lingkungan.
Sampah yang terurai tidak dipisah dengan plastic, berserakan. Bahkan bisa menyumbat aliran air, atau selokan yang terdapat di sekeliling lingkungan, yang ujung ujungnya menyebabkan banjir. Tengok saja banjir tahunan di beberapa daerah, dengan biang kerok, sampah!
Pengelolaan sampah yang baik, tentu akan bermanfaat. Beberapa telah melakukan usaha, seperti mendaur ulang, atau memanfaatkan plastic bekas untuk dibuat kerajinan, atau berbagai bentuk investasi yang menguntungkan. Home industry, yang kebanyakan digalang oleh ibu ibu PKK, dengan kreatif mengolah sampah plastic khususnya, menjadi pernak pernik yang komersil, patut dijadikan contoh.
Peranan pemerintah saja tidak cukup. Namun, diperlukan uluran tangan masyarakat, teknologi yang mendukung, dan pendanaan, yang saat ini masih kurang. Banyak masyarakat yang menganggap, bahwa sampah adalah barang buangan. Menyadarkan masyarakan, bahwa sampah adalah hasil dari tindakan mereka sendiri, dan sepatutnya untuk dipertanggungjawabkan. Diperlukan pula peraturan hukum berupa undang undang mengenai persampahan, yang selanjutnya tinggal ditambahkan peraturan pemeintah.
Memanfaatkan gas metana yang keluar dari sampah menjadi energy yang dapat diterima lingkungan, karena mengurangi reduksi co2 di atmosfer, bisa menjadi alternative lain.
2. polusi udara
Penggunaan kendaraan bermotor agaknya semakin menjadi jadi. Contohnya saja, di lingkungan kampus Universitas Gunadarma, Gas buangan dari kendaraan bermotor sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, terutama organ pernafasan  yang tentu mengancam kesehatan manusia.
Menurut data WHO etiap tahun sekitar 3 juta orang meninggal karena polusi udara, atau 5% dari 55 juta orang meninggal setiap tahunnya di dunia. Kehidupan yang produktif diperpendek dengan masalah kesehatan, dimana masyarakat menghirup udara kotor.
Hal tersebut dapat di atasi, antara lain dengan cara melakukan reboisasi atau penghijauan kembali. Kita tahu bahwa hasil dari fotosintesisa adalah gas O2 yang tentu berperan dalam kegiatan bernafas sehari hari. Dengan banyaknya pepohonan, akan menyerap lebih banyak gas co2 untuk fotosintesis, dan mengubahnya menjadi O2. Dukungan masyarakat dalam mensukseskan ‘udara bersih’, juga sangat diperlukan. Kesadaran masyarakat untuk hidup sehat, perlu di tanamkan. Di antaranya dengan mengurangi intensitas penggunaan kendaraan bermotor, dan memasyarakatkan penggunaan sepeda.
Pencemaran udara juga tidak seluruhnya disebabkan kendaraan bermotor. Maraknya industri, dengan gas buangannya, juga meresahkan keberadaan O2 di bumi kita.
Solusi untuk mengatasi polusi udara kota terutama ditujukan pada pembenahan sektor transportasi, tanpa mengabaikan sektor-sektor lain. Hal ini kita perlu belajar dari kota-kota besar lain di dunia, yang telah berhasil menurunkan polusi udara kota dan angka kesakitan serta kematian yang diakibatkan karenanya. (www.kompas.com)
* Pemberian izin bagi angkutan umum kecil hendaknya lebih dibatasi, sementara kendaraan angkutan massal, seperti bus dan kereta api, diperbanyak.
* Pembatasan usia kendaraan, terutama bagi angkutan umum, perlu dipertimbangkan sebagai salah satu solusi. Sebab, semakin tua kendaraan, terutama yang kurang terawat, semakin besar potensi untuk memberi kontribusi polutan udara.
* Potensi terbesar polusi oleh kendaraan bermotor adalah kemacetan lalu lintas dan tanjakan. Karena itu, pengaturan lalu lintas, rambu-rambu, dan tindakan tegas terhadap pelanggaran berkendaraan dapat membantu mengatasi kemacetan lalu lintas dan mengurangi polusi udara.
* Pemberian penghambat laju kendaraan di permukiman atau gang-gang yang sering diistilahkan dengan "polisi tidur" justru merupakan biang polusi. Kendaraan bermotor akan memperlambat laju
* Uji emisi harus dilakukan secara berkala pada kendaraan umum maupun pribadi meskipun secara uji petik (spot check). Perlu dipikirkan dan dipertimbangkan adanya kewenangan tambahan bagi polisi lalu lintas untuk melakukan uji emisi di samping memeriksa surat-surat dan kelengkapan kendaraan yang lain.
* Penanaman pohon-pohon yang berdaun lebar di pinggir-pinggir jalan, terutama yang lalu lintasnya padat serta di sudut-sudut kota, juga mengurangi polusi udara.
3. no plants! banjir
Kampus hijauku…apakah masih hijau seperti dulu? Begitu pula dengan lingkungan di sekitar rumah yang cukup gersang. Siang hari begitu membakar tubuh. Penebangan pohon yang ramai ramai dilakukan untuk dijadikan lahan bangunan, agaknya telah ‘merampas’ udara sejuk saat ini. Dan sebagai generasi bangsa, sudah sepatutnya kita belajar untuk merawat tanaman, menanam pohon, Dan sebagai makhluk Tuhan, tentu sudah selayaknya memanfaatkan hasil hutan/ pohon, dan merawatnya, sebagai kepedulian kita dalam menjaga alam, yang akan kita manfaatkan lagi. Jadi, siklus tebang-tanam,
                                                                                                 Sumber : Sufiani Rufiani.P

0 komentar:

Poskan Komentar